BI Checking Membuat Rumit atau Membuat Aman ?

Membuat Rumit atau Membuat Aman

Artikel ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak siapapun atau pihak manapun. Namun murni untuk memberikan sebuah informasi dan semoga menjadi suatu kebaikan, kita fokuskan pada BI checking serta penggunaannya.

Akhir-akhir ini banyak iklan berupa brosur atau spanduk dari berbagai media marketing property yang berlabelkan “islami” (baik yang mencoba mengikuti ajaran islami atau yang cuma ikut-ikutan trend saat ini saja) yang disebutkan salah satu keunggulannya adalah Non BI checking, dengan alasan BI Checking itu sistem yg membuat kita rumit bin ribet dan menyulitkan orang-orang untuk mempunyai aset berupa property.

Pertama sekali ada sebuah kesalahan mindset yang harus kita perbaiki, yaitu bahwa BI Checking bukanlah suatu sistem yang bertujuan untuk membuat rumit tetapi justru kebalikannya , BI Checking itu merupakan sensor atau alat pengaman tingkat awal untuk memfilter orang-orang yang pada awalnya sudah mempunyai kredit di Bank atau lembaga keuangan lainnya (Leasing/Koperasi/dll) dan mereka mempunyai historical atau rekam jejak pembayaran yang baik ataupun buruk.

BI checking itu merupakan istilah untuk menyebut sistem pengecekan history kredit seseorang dalam 1 tahun [24 bulan] terakhir. Yang aslinya namanya adalah IDI (informasi debitur individual), kemudian dihasilkan oleh SID (Sistem informasi debitur) yang dibuat Bank Indonesia. Setiap bulan di awal bulan (biasanya maksimal tanggal 5) semua Lembaga Keuangan (LK) membuat serta melaporkan laporan bank umum-syariah (LBU/LBUS). Dari seluruh cabang di seluruh indonesia dan terkoneksi langsung ke BI melalui SID.

Nah SID inilah yang kemudian menghasilkan IDI ketika LK menginput data-data yang tertera pada ktp seseorang dan NPWP terutama nama lengkap dan tempat tanggal lahir serta no.(e-)ktp ketika ada seseorang yang bertujuan untuk mengajukan pinjaman atau kredit/pembiayaan.

Dari IDI inilah LK dapat mengetahui “karakter” calon debitur. Ketika di wawancara awal, calon debitur atau calon nasabah mengatakan kalau dia tidak pernah ada kredit atau pernah kredit tapi semuanya lancar, ada alat bukti yang 99,9% valid untuk memverikasi kejujuran calon nasabah tersebut. Kalau sudah tidak jujur dari awalnya saja sudah langsung di TOLAK alias REJECT , tetapi klo jujur maka bisa dilanjutkan karena memenuhi point karakter dalam azas 5C (Character, capacity, condition, capital, collateral)

Dalam IDI ini terdapat 24 kotak yang mencerminkan 24 bulan, setiap kotak berisi keterangan satu angka saja antara 1 s/d 5, yang menggambarkan kualitas pembayaran/kolektibilitas/kol. Jika di kotak tersebut terisi angka1 artinya kol1(lancar), jika angka 2 maka kol 2 (macet 1-3 bulan berturut-turut), kol 3(macet 4-6 bulan berturut-turut), kol 4 (macet 7-9 bulan), terakhir kol 5(macet 9-12 bulan). Dan dalam lembaran IDI itu mencakup data2 dari semua LK. Jika seseorang punya beberapa kredit sekaligus pada beberapa bank dalam 24 bulan terakhir, maka semua data-data dari semua bank pemberi pinjaman itu akan ditampilkan dalam 1 lembar atau beberapa lembar tergantung banyaknya pinjaman si nasabah.

BI Checking

Coba kira-kira apa fungsinya IDI /BI CHECKING ini untuk kita sebagai selaku penyalur kredit atau pemberi pinjaman atau angsuran direct owner? fungsi BI Checking ini yaitu :

  1. Untuk melihat sejarah (Jejak rekam) kemampuan bayar dalam kurun waktu 24 bulan terakhir,
  2. Untuk melihat kemauan bayar dalam 24 bulan terakhir.
  3. Untuk melihat berapa banyak angsuran bulanan yg eksisting dan jika dibandingkan kredit akan diberikan dan nantinya akan menghasilkan angsuran bulanan tambahan yang baru, dibandingkan total semua angsuran tersebut dengan total pendapatan/take home pay(thp)
  4. Untuk melihat tingkat konsumtif (terkait kartu kredit dan kredit konsumtif seperti kredit mobil, multiguna dsb). Bisa dibandingkan dengan take home pay(thp)nya, kebanyakan gaya atau biasa2 aja konsumtifnya.
  5. Untuk melihat kejujuran/verifikasi dengan data yang diberikan calon nasabah.

Secara garis besar fungsi BI checking adalah untuk membatasi resiko terutama resiko human berupa bad character yang terkait dengan willingness to pay atau kemauan bayar dan juga resiko keuangan berupa kemampuan bayar.

Saya yakin sebagai seorang pebisnis, terutama bisnis property, kita sangat tidak ingin real profit yang hanya dapat dinikmati pada beberapa unit terakhir jadi terkendala kita nikmati karena kita direpotkan pada hal-hal yang sebenarnya dari awal dapat kita hindari atau kita minimalisir.

One thought on “BI Checking Membuat Rumit atau Membuat Aman ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *