Kenapa Hutang Indonesia Kok Malah Nambah Terus, Kapan Lunasnya ?

Kenapa Hutang Indonesia Kok Malah Nambah Terus, Kapan Lunasnya

Kalau kalian sering dengar berita mengenai utang RI ? Kalau sudah ngomongin soal utang negara kita tercinta ini, biasanya kebanyakan orang awam langsung beropini bahwa dengan banyaknya utang di negara kita tercinta ini adalah suatu parameter kemerosotan dari segi ekonomi. Coba kalian perhatikan lagi, setiap kali muncul berita yang mengupas tentang topik utang negara, belum apa-apa para netizen sudah banyak yang berkomentar contohnya seperti dibawah ini :

“Katanya Negara Republik Indonesia ini negara yang kaya raya, hutannya luas, emasnya banyak (PT Freeport) tapi kok ngutang ya?”
“Ini kok negara utangnya nggak lunas-lunas ya? Malah ditambah utang terus, malu-maluin banget deh!”
“Makin ke sini utang Indonesia kok malah tambah banyak ya, sampai 4 Triliun bukannya dikurangi ?”
“Apakah kita perlu seluruh bangsa Indonesia ngumpulin koin, terus koinnya dibayarin untuk utang negara?”

Sebagai orang yang selalu terjun langsung di dunia ekonomi, saya menganggap ini perlu diluruskan untuk kesalahpahaman ini. Karena apa apa yang tersirat dalam pradigmatis didalam komentar para netizen seperti yang di atas, merupakan spekulasi pemikiran dari cara berfikir yang pendek dan serta merta ketidaktahuan masyarakat luas mengenai mekanisme ekonomi makro, khususnya dalam skala global ekonomi negara.

Pada kesempatan saat ini, saya ingin sekali mengupas tuntas topik mengenai utang negara Indonesia secara mendalam dan sangat insklusif. Semoga apa yang dapat saya sampaikan didalam artikel ini bisa membuka cakrawala dan pengetahuan perspektif yang segar bagi para pembaca artikel ini khususnya seputar aspek ekonomi makro.

Memang berapa utang negara kita tercinta ini sih?

Ngomongin soal utang, sebenarnya dari awal negara Republik Indonesia kita merdeka di tahun 45, bisa dibilang negara kita ini sudah mempunyai warisan utang dari pemerintahan kolonialis belanda. Jadi secara teknis, sudah dari sejak tahun 1945 negara Indonesia mempunyai utang, dan terus berkesinambungan dari presiden ke 1 pemerintahan Presiden Sukarno hingga presiden zaman now ke pemerintahan Pak Joko Widodo sekarang ini. Dilihat berdasarkan angka, ditahun 1960 utang negara RI berada pada angka Rp 21,25 triliun, hingga memasuki tahun 2016 berada pada nominal Rp 3.400 triliun. Diakhir Mei 2017 mencapai Rp 3.672 triliun. Dan yang terupdate per februari 2018 ini sudah memasuki Rp 4.034 triliun atau meningkat menjadi 13,46% dari tahun 2017.

Nah, kalau kita lihat dari segi nominalnya saja, utang negara Indonesia sejak merdeka 50 tahun yang lalu ini tampaknya membengkak besar sekali ya…! tetapi tunggu dulu. Dalam aspek ekonomi, kita tidak dapat menilai baik/buruknya begitu saja hanya saja utang negara dilihat dari sisi nominalnya saja, karena ada beberapa faktor lainnya seperti perubahan nilai kurs, inflasi, dan juga rasio utang terhadap PDB. Kok begitu sih ? Sabar ya, untuk detilnya akan dijelaskan di bawah ini.

Secara benang merah gambaran utang negara Indonesia begini dari waktu ke waktu dapat dilihat diinfographic yang dibuat oleh team Liputan6 di bawah ini :

Catatan Rasio utang Indonesia

Apa definisi utang negara ?

Sebelum berbicara lebih rinci lagi, saya hanya mau memastikan terlebih dahulu bahwa kalian kalian mengerti apa pengertian dari utang negara. Sederhana-nya sih, yang dimaksud dengan utang negara itu cakupannya ada 2 yaitu utang swasta dan utang pemerintah. Dari utang swasta dan pemerintah itu, ada utang yang ke pihak dalam negeri, ada juga yang utang ke pihak luar negeri. Maksudnya dengan utang ke dalam negeri itu maksudnya apa ya? bisa dibilang pemerintah itu mempunyai utang kepada masyarakat kita sendiri, misalnya ke saya atau kamu.

Siklus_Utang_Negara

Kalau untuk utang pemerintah ya artinya pemerintah sendiri yang berhutang, kalau utang swasta ya berarti kumpulan dari perusahaan swasta dari dalam negeri kita ini yang berhutang. Kalau untuk utang ke pihak luar negeri itu biasanya negara kita utang ke negara lain atau organisasi internasional seperti IMF, World Bank, ADB, dan sebagainya. Sementara untuk utang ke pihak dalam negeri biasanya pemerintah Indonesia berhutang kepada masyarakat Indonesia dengan cara menerbitkan surat utang (obligasi) yang dijual oleh pihak pemerintah ke perusahaan dalam negeri ataupun ke masyarakat umum.

Nah, dikarenakan pembahasan yang akan kita ulas super luas, pada artikel kali ini saya ingin berfokus untuk membahas utang dari pemerintah saja, baik yang ke luar ataupun ke pihak dalam negeri. Mungkin di lain waktu nanti saya akan membahas topik mengenai utang perusahaan swasta secara rinci dan detail di artikel yang lain.

Baca Juga : Pengertian Manajemen Resiko Keuangan Pribadi

Oke, yuks balik lagi fokus ke jumlah angka yang nominal utangnya tadi kesannya gede banget. Kalau kamu jeli dan memperhatikan dengan seksama, kenaikan untuk utang nehara kita secara angka (nominal) naik drastis pada tahun 1997 s/d 1998 (zaman krisis ekonomi moneter) disaat itu banyak juga negara negara Asia yang juga mengalami krisis ekonomi moneter yang begitu dahsyat. Salah satu efek dari krisis moneter itu bagi negara kita ini adalah penurunan nilai mata uang Rupiah terhadap mata uang US Dollar, yang tadinya 1 USD dinilai Rp. 2.600, sekarang 1 USD sudah menembus angka Rp. 13.500. Justru pada waktu tahun 1997 s/d 1998 disaat itu sempet menembus di angka Rp. 17.000 per 1 Dollarnya.

Makanya sewaktu utang Indonesia ditahun 1998 dan beberapa tahun berikutnya juga terlihat naiknya makin gila-gilaan. Bahkan sampai ditahun 2018 inipun sekarang utang Indonesia secara angka (nominal) terus bertambah. Waduh gawat nih berarti perekonomian negara Indonesia makin ancur aja dong? Faktanya, utang negara RI terus meningkat !

Jawaban dari saya singkat saja :

Tidak sama sekali, karena dibandingin sama tahun 1998, perekonomian kita bahkan sebenernya semakin membaik. Kalau mau ngomongin soal utang negara, kenyataannya utang negara RI pada tahun 2018 ini secara riil itu lebih sedikit dibandingkan pada tahun 1998.

Lho kok bisa ambil kesimpulan seperti ini sih? Bukannya utang RI pada tahun 2018 secara angka (nominal) lebih gede dari tahun 1998? Yuk mari kita belajar mengenai pengertian dari rasio utang.

Pengertian Dari Rasio Utang?

Bicara mengenai utang, masyarakat umum biasanya melihat latar belakang utang dari sisi angka (nominal) saja. Jika hari ini kita berhutang ke warung sebelah sebesar Rp 30.000, besok kita nambah utang lagi Rp 20.000 jadi totalnya menjadi Rp 50.000. Berarti utang kita di warung terus bertambah dan makin banyak. Nah, didalam konteks sebuah ekonomi makro ini, khususnya dalam skala sebuah negara, kita tidak dapat melihat utang hanya dari sisi angka (nominal) saja seperti contohnya tadi utang kita ke warung.

Mungkin akan mudah dipahami jika saya dapat menerangkan dengan perumpamaan negara Indonesia sebagai 2 sosok manusia yang sedang berutang ya, contohnya ada 2 manusia bernama Ali dan Budi. Si Ali memiliki penghasilan sebesar Rp 1 juta/bulan, dan ternyata si Ali memiliki utang sebanyak Rp 12 juta yang wajib dilunasi dalam jangka watu 1 tahun. Yang artinya, jika si Ali mencicil utang 1 juta per bulannya, maka dalam 1 tahun si Ali dapat melunasi utangnya dengan tepat waktu? Kalau disederhanakan menjadi total pendapatan si Ali = total utang, atau dengan kata lain utang si Ali adalah 100% dari pendapatannya kan?

Baca Juga : Berapa Gaji Anda Sekarang Ini Rasio Kredit Yang Dapat Diajukan

Di waktu yang bersamaan di sisi lain, ternyata si Budi mempunyai penghasilan yang lebih besar sebesar Rp 5 juta/bulan, dimana si Budi mempunyai utang sebesar Rp 20 juta yang harus dia lunasi selama jangka waktu 1 tahun. Secara angka (nominal) utang si Budi jauh lebih besar daripada utang si Ali. Tapi jika dilihat dari sudut pandang “sejauh mana kemampuan si Budi dalam melunasi utangnya”, kita bisa mengukur dari jumlah rasio utang yang wajib dia bayar selama jangka waktu 1 tahun, dibandingkan dengan total penghasilan si Budi selama 1 tahun. Hasilnya, total penghasilan si Budi sebesar Rp 5 juta x 12 bulan = Rp 60 juta ; dibagi dengan jumlah hutang sebesar Rp 20 juta, jadi kesimpulannya rasio utangnya Budi adalah 33,3% dari penghasilannya si Budi.

Itulah pengertian dari rasio utang. Semakin kecil rasio utang berarti semakin besar pula kapasitas dari subjek yang berutang untuk dapat melunasi utangnya. Nah, rasio utang yang seperti inilah yang lebih tepat dan akurat untuk mengukur suatu utang pada skala kenegaraan. Lalu total penghasilan negara kita ini ukurannya dari mana dong? Biasanya yang paling umum istilah yang dipakai adalah PDB (Pendapatan Domestik Bruto). Oke, lalu bagaimana dengan rasio utang negara kita, jika dibandingkan dengan pendapatannya (PDB)? Nah, kita dapat lihat persentasenya dari gambar yang sebelumnya. Nih biar gak lupa saya tampilkan lagi ya :

Catatan Rasio utang Indonesia

Angka dalam % dalam gambar di atas menunjukkan rasio utang negara RI kita (pemerintah dan swasta) terhadap PDB kita pada tahun yang bersangkutan. Jadi bisa dibilang rasio utang pada era zaman pemerintahan Presiden Soeharto 57,7% itu berarti utang negara kita sebesar 57,7% dari PDB kita di tahun 1998, dan angka (nominalnya) sebesar Rp. 551,4 triliun. Justru di tahun 1999 utang negara kita sebesar 85,4% dari PDB kita di tahun tersebut dan angkanya sebesar Rp. 958,8 triliun.

Dari sinilah dapat kita ambil kesimpulan bahwa walaupun angka (nominalnya) utang negara kita ditahun 2016 jauh lebih besar dibandingkan utang kita ditahun 1998, tapi lihatlah rasio terhadap PDBnya jauh lebih kecil bukan, yaitu sebesar 27,5%. Itu artinya utang negara RI itu “hanya” sebesar 27,5% dari total pendapatan negara di tahun itu. Lho kok bisa ya ? Ya tentu bisa dong, karena PDB kita di tahun 2016 jauh lebih besar daripada PDB kita ditahun 1998. Jadi sebenernya secara riil jumlah utang negara kita mengecil ya.

Kenapa utang RI Tidak kita lunasin saja, Kok malah nambah utang terus ?

Mungkin diantara kamu ada yang masih bertanya tanya, utang negara kita kan “hanya” 27,5% dari penghasilan negara, kenapa tidak dilunaskan saja sekalian? Kok malah menambah utang lagi jadi terus numpuk dong? Nah ini dia, sekali lagi kita perlu menggiring jauh jauh pola pikir mengenai utang-piutang ini dari perspektif yang pendek seperti pola pikir kita seperti utang ke warung.

Bicara mengenai utang negara RI kita tercinta ini, kita harus melihat juga dari perspektif negara dan juga kepentingan negara, secara simple-nya negara RI kita ini punya 2 pertimbangan dan penilaian mengenai pengalokasikan uang untuk melunasi utang :
• Kesanggupan negara untuk mempertanggungjawabkan (melunasi) utang di masa depan.
• Perluasan pembangunan negara diberbagai macam sektor.

Dari 2 penilaian itulah, negara hanya punya 2 skenario:
1. Melunasi seluruh utang, tapi efeknya pembangunan pada beberapa sektor akan melambat.
2. Menambah utang negara sejauh dapat dipertanggungjawabkan, untuk kemudian digunakan untuk mempercepat pembangunan negara.

Singkat ceritanya, pemerintah RI era sekarang dalam beberapa tahun belakangan ini lebih memilih opsi yang ke 2, yaitu dengan menambah utang (dengan suatu pertimbangan bahwa secara rasio utang masih bisa dipertanggungjawabkan), untuk kemudian utang negara tersebut akan digunakan untuk mempercepat pembangunan negara di sektor sektor tertentu.

Baca Juga : Ekonomi Gokil Zaman Now

Mungkin kalian pernah berfikir : Ngapain juga sih kita sampe bela belain ngutang segala sama negara lain untuk buat bikin MRT? Kalau memang belum mencukupi uangnya ya kan bisa nabung dulu aja. Contohnya kalau kita mau mengganti smartphone keluaran terbaru, kalau duitnya belum cukup ya kan kita bisa nabung dulu sebelumnya. Nah, di sini lah letak perbedaan manajemen keuangan pribadi sama manajemen keuangan negara. Dalam sudut pandang perspektif kenegaraan, fungsi hutang untuk percepatan ekonomi itu adalah hal yang wajar dan itu normal banget kok.

Untuk perspektif secara personal, menunda dalam membeli smartphone baru mungkin merupakan hal sepele, tapi bagi perspektif untuk kenegaraan? MENUNDA pembangunan bandara, MRT, pelabuhan, jalan tol, jaringan internet, ataupun pembangkit listrik, … itu sama saja dengan menunda kesejahteraan bagi masyarakat luas. Karena untuk pembangunan disektor-sektor pembangunan negara, tidak selalu sesederhana dalam menunda membeli smartphone keluaran terbaru, tapi ini merupakan hal yang sangat krusial dan penting dan tentunya juga supaya memperkokoh berbagai sendi-sendi perekonomian negara dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Di sisi lain juga, kalian harus bisa melihat bahwa pertumbuhan pembangunan akan membuat penghasilan negara makin bertambah dan juga akan meningkatkan kemampuan negara dalam membayar utang yang jatuh temponya ada di masa yang akan datang. Contoh simple-nya, negara kita berutang pada negara Jepang untuk pembangunan proyek MRT di kota Jakarta. Jika didalam proyek tersebut berjalandengan lancar dan pihak negara pun sanggup dalam mempercepat laju perputaran perekonomian di Jakarta, dan juga disisi lain ongkos dari MRT tersebut juga akan menjadi salah satu sumber penghasilan negara yang baru. Jadi sebenarnya, jika dalam pengalokasian utang tersebut sudah tepat sasaran pada sektor yang produktif, sebenarnya pembangunan tersebut dapat dikatakan menjadi sumber pendapatan baru supaya dapat melunasi utang negara kita.

Memangnya ada negara lain yang berhutang seperti kita ?

Mungkin banyak yang penasaran dengan pernyataan saya di atas, bahwa : dalam ukuran skala kenegaraan, hutang itu adalah hal yang wajar, lumrah dan bahkan normal banget.

Terus memangnya apakah ada negara lain juga yang berhutang sama seperti negara kita ini? Iya, pasti ada hampir disemua negara di belahan dunia manapun punya hutang kok! Bahkan negara-negara maju seperti AS yang perekonomiannya kuat punya hutang. Katakanlah negara Adidaya yaitu Negara AS, merekapun punya hutang. Negara kedua yang perekonomiannya maju yaitu negara Tiongkok, juga punya hutang. Begitu juga negara-negara maju lainnya yang perekonomian negaranya sangat kuat seperti Jerman , Inggris, Jepang, Australia , Prancis, Singapura dll juga mempunyai hutang loh. Bahkan dapat dibilang rasio utang untuk negara-negara berkembang tersebut lebih besar daripada rasio utang Negara RI terhadap PDB-nya. Berikut ada beberapa data tahun 2012 yang dapat saya tunjukkan :

Utang_Negara_Didunia

Nah, untuk perbandingan utang-utang dinegara belahan dunia ini kamu kamu bisa liat tabel diatas, bisa dibilang rasio utang RI masih relatif kecil jika disamakan dengan negara-negara maju tersebut diatas. Contohnya saja utang AS, yang dikenal sebagai perekonomian nomor 1 di dunia ini, mereka saja utangnya lebih dari 100% dari PDBnya di tahun 2016 yang lalu. Gila bukan? Tapi kok ngga bangkrut bangkrut sih? Inilah gambaran dari kekuatan ekonomi negara AS, karena perekonomian mereka begitu kuat dan kokoh serta proyeksi perkembangan ekonominya di masa depan juga sangat bagus, jadi si pemberi utang pun jadinya percaya saja bahwa negara AS tuh mampu untuk mempertanggungjawabkan (melunasi) utangnya jika saat jatuh tempo tiba.

Kalau semua negara berhutang, lalu siapa yang kasih Pinjaman Dananya?

Jadi negara-negara tersebut pada ngutang ke negara siapa sih sebetulnya? Nah mungkin gambar di bawah ini dapat menjelaskan ke kamu untuk dapat memahami masalah utang negara ini. Kita ambil satu kasus negara AS ya, tadi kan sudah kita lihat hutang AS cukup lumayan besar. Nah coba deh sekarang kita lihat negara mana saja yang memberikan utang ke negara AS :

Data Pemberi Utang Negara
Data Pemberi Utang Negara

Nah terlihat semua kan ada beberapa pihak yang punya piutang ke pihak AS, misalnya aja Belgia, China, Jepang dan beberapa negara lainnya , terus ada berbagai lembaga keuangan investasi seperti Civil Service Retirement Fund (Dana Pensiun Pegawai Negeri Sipil), terus ada juga individual dan institusi AS.

Ini mungkin saja agak membingungkan diawalnya. Tapi begini alurnya, dalam lingkup sebuah negara, hutang bukanlah sebuah hal yang aneh, tabu atau hal yang memalukan. Konteks hutang dalam skala negara meliputi juga piutang negara tersebut kepada negara lainnya. Dimana semua aspek dinamika mengenai utang-piutang antara negara dan lembaga keuangan ini dapat diperhitungkan dengan cukup rinci dan detail sampai pada masa jatuh temponya.

Negara mana yang paling banyak kasih pinjaman ke Negara Indonesia ?

Utang RI sekarang ini mayoritas dalam bentuk sebuah (SUN) Surat Utang Negara dimana per bulan Februari 2017 tahun lalu berada di angka (nominal) 2,848.80T atau 79.4% dari total seluruh utang. Sisanya berupa pinjaman berada di nominal 740.32T atau 20.6% dari total seluruh utang negara. Pinjaman dari luar negeri terdiri dari pinjaman multilateral (contohnya pinjaman ke ADB , IMF), pinjaman bilateral (pinjaman ke sebuah negara) serta pinjaman bank komersial dan supplier.

Posisi utang pemerintah pusat Berdasarkan Kreditur dalam triliyun
Posisi utang pemerintah pusat Berdasarkan Kreditur dalam triliyun

Dapat dilihat di tabel di atas, bahwa negara Jepang begitu mendominasi utang bilateral negara RI dengan jumlah nominal 201.80T atau 5.6% dari total keseluruhan utang RI. Negara-negara lainnya %nya berada di bawah 1%. Sedangkan utang multilateral banyak didominasi dari World Bank (Bank Dunia) dan Asian Development Bank (ADB).

Mekanisme jika negara mau tambah utang itu prosesnya bagaimana sih?

Mungkin masih banyak yang berfikir kalau proses negara untuk menambah utang itu sama saja seperti negara saat begitu dikasih atau ditransfer uang oleh pihak institusi keuangan. Bukan begitu caranya. Jadi begini, katakanlah jika negara AS mau menambah hutangnya, mereka tidak begitu saja meminta uang ke negara lain. Pemerintah AS beserta Bank Sentral AS atau disebut juga Federal Reserve (The Fed), menerbitkan surat utang atau disebut juga US Treasury Bill (surat berharga), contohnya seperti obligasi. Nah, surat utang seperti ini yang dijual ke pihak lain, bisa ke pihak lembaga keuangan, individu, , atau bahkan ke pihak negara lain. Setiap surat utang (obligasi) ini, ada semacam masa aktif dan bunga per tahunnya.

Jadi kalau seandainya saja saya beli surat utang (obligasi) negara AS, pastinya saya akan mendapatkan hak untuk menagih kembali piutang saya saat jatuh tempo, dan saya juga akan mendapatkan bunga per tahunnya. Selain itu juga, saya juga bahkan dapat memperjual-belikan surat utang (obligasi) ini kepada pihak lain sebelum jatuh tempo pelunasannya. Jadi sebenarnya, penjualan surat utang (obligasi) oleh negara ini juga seringkali dilihat sebagai instrument investasi bagi masyarakat umum, perusahaan, bahkan bagi negara lain.

Jadi dalam sudut pandang tertentu, negara menambah hutang itu seperti halnya dia mencetak uang baru saja. Cuma bentuknya bukanlah mencetak uang Rupiah dalam bentuk fisik, tetapi mencetak surat utang yang akan dijual kepada pihak lain, lengkap dengan masa berlaku (jatuh tempo) dan juga bunga per tahun. Kebayang kan maksudnya gimana.

Sebenernya ngutang itu hal yang negatif apa positif ?

Saya jawab ya : Tergantung, khususnya pada 2 hal berikut :
1. Utangnya dapat dipertanggungjawabkan (dilunasi) atau tidak saat jatuh tempo.
2. Utangnya dipakai untuk apa? Apakah yang bersifat produktif atau tidak.

Selama 2 syarat tersebut dapat dipenuhi, maka saya sendiri berpendapat bahwa hutang dalam skala kenegaraan itu wajar saja adanya, justru bagus kalau dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang. Hal yang akan jadi masalah yaitu ketika negara kita ngutang, tetapi tidak jelas untuk apa penggunaannya. Bisa jadi pengalokasiannya pada sektor yang kurang produktif, atau justru dikorupsi oleh oknum tertentu. Nah, kalau sampai itu terjadi, baru kita sebagai masyarakat berhak protes mengenai kebijakan utang negara.

Baca Juga : 7 Prinsip Agar Dapat Disetujui Kredit Pinjaman Oleh Bank

Tetapi kalau masyarakat saat ini protes karena kesannya negara kita itu nambah utang dan angka (nominalnya) terus bertambah, rasanya kurang tepat juga alasannya. Karena kita cuma asal protes saja tanpa dapat memahami konsep dari rasio utang negara yang kita bahas sebelumnya dan tentunya penggunaan anggaran negara untuk alokasi perkembangan ekonomi makro.

Sampai kapan Indonesia terus berhutang ?

Nah, khusus pertanyaan yang satu ini terus terang saja saya tidak dapat menjawabnya secara gamblang. Tetapi kalau dari pendapat saya pribadi : ya sejauh mana hutang itu digunakankan. Sekali lagi, mohon jangan terjebak dengan sudut pandang seperti hutang ke warung ya :

Wah RI hutangnya banyak sekali ! Parah nih, berarti negara RI harus berusaha caranya bagaimana untuk dapat melunasi utang tersebut dan jadi negara yang bebas dari hutang. Kan malu-maluin kalau RI berutang terus.

Jangan berfikir seperti itu ya. Sekali lagi, dalam skala kenegaraan, hutang adalah hal yang sangat normal dan wajar. Kita jangan terpaut pada objektif bahwa Indonesia harus segera dapat melunasi hutang. Hal yang malah harus kita pikirkan yaitu cara pengelolaan APBN & APBD (dana kas negara) dengan baik. Bagaimana caranya supaya hutang negara RI tersebut teralokasikan tepat pada sasaran yaitu pada sektor yang produktif, sehingga pembangunan negara kita ini berjalan dengan baik, negara kita punya sumber pendapatan yang baru dan juga bisa segera melunasi utang pada saat tiba masa jatuh tempo.

Bagi sebuah negara, utang itu sangat menguntungkan (jika dilalokasikan dengan tepat sasaran), bagi si pemberi utang juga sama sama menguntungkan (sebagai media investasi). Jadi bagi kedua belah pihak menjadi win-win solution bukan ? Jadi balik lagi ke pertannyaan tadi, sampai kapan suatu negara akan terus berutang ? Ya sejauh mana utang tersebut dibutuhkan.

Begitulah kiranya panjang lebar pembahasan dari saya mngenai topik utang negara RI kita tercinta ini. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan baru buat kalian semua dan juga membuka perspektif untuk pola pikir yang baru, khususnya di bidang ilmu ekonomi kenegaraan. Sampai berjumpa kembali di artikel selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *