Pelaku Usaha Menilai Kebijakan BI Checking Menghambat Target Sejuta Rumah

BI Checking Menghambat Target Sejuta Rumah

Para pelaku usaha meminta kepada pemerintah supaya segera mengevaluasi program strategis nasional sejuta rumah yang sudah berjalan semenjak tahun 2015. Beberapa hal masih diklaim menjadi sumber penghambat tercapainya program tersebut.

Wakil Ketua Umum Dewan Perwakilan Pusat (DPP) dan Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Bidang Pembangunan Perumahan Sejahtera, Bapak Conny Lolyta Rumondor mengatakan bahwa ada dua pokok permasalahan yang menjadi fokus dalam pengembang saat ini.

Pertama, penghapusan BI Checking kepada calon nasabah atau konsumen penerima bantuan kredit pemilikan rumah baik secara komersial ataupun subsidi.
Kedua, penurunan suku bunga untuk kredit konstruksi yang pada saat ini masih dalam angka digit ganda.

Conny menyebut sekarang ini masyoritas rumah dibangun oleh para pengembang agak sulit diakses oleh masyarakat pada umumnya karena masalah gagal proses di perbankan. Bahkan mencapai 90% dikarenakan tidak lulusnya pada BI Checking.

“Intinya kami meminta bahwa BI Checking jangan seperti hukuman pancung atau hukuman mati, karena pihak perbankan tidak dapat mengklaim itu sebagai karakteristik calon konsumen. Perbankan sebaiknya segera berbenah dengan mekanisme yang saat ini juga banyak merugikan pihak masyarakat,” ungkapnya.

Dirinya menilai bahwa perbankan khususnya pada calon konsumen kredit pemilikan rumah (KPR) harus lebih banyak memberikan fasilitas kemudahan. Karena, menjadi tidak masuk akal jika sesama penerima gaji contohnya Rp1,8 juta tetapi ada yang dapat menerima KPR dan ada pula yang tidak dapat karena hanya persoalan yang lalu sudah rampung.

Padahal, lanjutnya, terkadang riwayat SID yang buruk seperti penunggakan pembayaran kartu kredit bukan karena persoalan individu yang sedang mengajukan KPR. Untuk itu, selagi dalam masa pengajuan KPR calon konsumen tidak mempunyai kredit macet, BI Checking tidak boleh menjadi kendala.

Menurut Conny pihaknya sudah bersurat kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk segera menindaklanjutinya.

Tidak hanya itu, hari ini juga sudah dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Kementerian PUPR di Kalimantan Barat untuk membicarakan lebih lanjut tentang sejumlah persoalan yang diajukan REI.

“Selain masalah perbankan, kami juga akan bicarakan agenda penting lainnya yaitu soal pendataan. REI berkomitmen bersama pemerintah supaya lebih menata ulang proses pendataan capaian sejuta rumah supaya tidak hanya menjadi baik di atas kertas,” ujar Conny.

Hal ini menjadi jawaban atas protes dari proses pendataan yang dilakukan pemerintahan selama ini. Sebab selain dari data asosiasi dan PEMDA, Kementerian PUPR juga mengambil data dari banyaknya jumlah pengembang dan developer yang mengajukan kredit konstruksi di pihak perbankan.

Conny menegaskan proses tersebut yang akan diperbaiki ke depannya nanti. Menurutnya, data pengajuan kredit konstruksi pengembang tidak bisa menjadi salah satu patokan jumlah tercapainya sejuta rumah dalam tahun tersebut.

“Pengembang itu mempunyai strategi masing-masing, bisa aja mereka megajukan KPR saat ini tetapi baru dibangunnya tahun berikutnya, jadi ini adalah salah satu strategi jika dijadikan klaim capaian.”

Sebelumnya, REI menargetkan pada tahun ini akan membangun 200.000 unit hunian MBR atau meningkat dari capaian di tahun lalu sebanyak 120.000 unit.

Sekretaris Jenderal DPP REI Paulus Toto Lusida mengungkapkan bahwa target untuk REI tersebut diharapkan dapat menjadi suatu pendorong pencapaian sejuta rumah secara Nasional sebanyak 500.000 unit. Sebab, dua tahun berjalan program ini hanya bisa berhasil mencapai rata-rata 200.000an unit yang benar-benar dapat terserap oleh MBR.

Menurutnya REI optimis sebab tidak ada masalah dan persoalan dari sisi permintaan untuk segmen pasar rumah subsidi ini. Bahkan selama ini segmen tersebut menjadi andalan untuk pertumbuhan kinerja industri properti secara keseluruhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *