Pentingnya Mengetahui Nama Anda Di BI Checking dan IDI Historis, Apa perbedaan BI Checking dan IDI Historis?

Manfaat SID atau BI Checking

BI Checking merupakan sebuah program yang diluncurkan oleh pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia untuk merekam data riwayat nasabah dalam kaitannya dengan perbankan. Sedangkan IDI merupakan singkatan dari Informasi Debitur Individual yang menjadi hasil output dari BI Checking.

Tujuan dari BI Checking adalah menghindari resiko kredit macet pada nasabah. Oleh karena itulah untuk menguji kelayakan nasabah untuk mendapatkan kredit adalah melalui BI Checking yang berisi data nasabah yang berhubungan dengan transaksi di perbankan. Hasil dari BI Checking ini disebut IDI Historis yang nantinya akan digunakan untuk syarat pengajuan kredit. hasil output IDI Historis akan menampilkan rekam jejak transaksi perbankan selama dua tahun terakhir.

Seperti contoh seorang pengusaha memiliki aset bernilai satu milyar berupa rumah. Kemudian dia ingin meminjam dana sebesar 100 juta dengan jaminan rumah tersebut. Padahal dia sudah berada dalam daftar blacklist karena kredit yang macet karena tunggakan menumpuk.

Lantas apakah bank akan cepat menolaknya? Kalau ditolak, bukankah asetnya cukup untuk melunasinya?

Sebelum menjawabnya dengan gamblang ada baiknya memperhatikan prinsip 5 C yang digunakan bank untuk acuan pinjaman pada nasabah. Berikut ini prinsip 5 C tersebut.

Prinsip 5 C Dalam Sistem Penilaian Calon Peminjam Dana Bank

1.     Capacity (Kapasitas)

Dari semua prinsip 5 C mungkin inilah yang menjadi prioritas utama karena bank harus meneliti apakah nasabah mempunyai kapasitas untuk membayar kredit pinjamannya. Penilaian ini membutuhkan proses yang lama jika tidak ditemukan data di BI Checking karena harus mempertimbangkan antara tempo waktu pembayaran, arus kas perusahaan, dan beberapa opsi yang bisa membuat nasabah menjamin akan kelancaran proses pembayaran pengkreditan. Kapasitas ini juga dibuktikan dengan banyaknya usaha dan aktivitas yang berkaitan dengan perbankan sehingga data yang diperoleh bisa lebih valid.

2.     Capital (Modal)

Modal yang dimiliki oleh nasabah juga diperhatikan secara khusus untuk mendapatkan kesiapan dalam peminjaman dana. Modal yang dimiliki oleh nasabah bisa berupa uang pribadi atau bisnis yang telah di investasikan. Bank lebih memprioritaskan nasabah yang memiliki modal dari aset sendiri sehingga bisa disurvei akan kelayakan bisnisnya sebelum mengajukan peminjaman dana. Selain itu dengan menggunakan aset sendiri mengurangi risiko kegagalan dalam bisnis.

3.     Collateral (Jaminan)

Jaminan merupakan langkah yang diambil oleh bank untuk mengantisipasi nasabah yang macet dalam kreditnya atau menunggak terlalu banyak. Jaminan ini bisa dirupakan tanah, rumah, mobil, dan barang berharga lainnya. Jadi sebelum melakukan proses serah terima peminjaman, nasabah akan diberikan surat perjanjian yang menyebutkan bahwa jaminan tersebut akan berpindah tangan jika kreditur tidak mampu menjalankan kewajibannya untuk membayar cicilan. 

4.     Condition (Kondisi)

Bank juga akan memperhatikan arah dari perjalanan dana peminjaman tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi keadaan yang tidak diinginkan menggunakan dana tersebut. Selain itu bank juga memperhatikan kondisi ekonomi nasional dan iklim industri secara keseluruhan untuk memperhitungkan dampak yang diberikan pada usaha atau bisnis anda. Dengan demikian bank akan melihat tujuan utama dari pinjaman dana kemudian menghubungkannya dengan kondisi yang relevan dengan tujuan tersebut.

5.     Character (Karakter)

Terakhir adalah menilai secara subjektif nasabah yang ingin meminjam dana dari bank. Penilaian ini berdasarkan karakter yang tercermin dari tingkah laku dan latar belakang nasabah itu sendiri. Pihak bank akan melakukan observasi mengenai kondisi perusahaan atau bisnis, kondisi keluarga, latar belakang pendidikan, pengalaman bisnis dan industri, dan masih banyak pertimbangan dan penilaian lainnya. Selain itu nasabah akan dilihat akan riwayat kreditnya dan juga sifat jujurnya selama proses pinjam meminjam dengan bank.

Prinsip 5 C inilah yang digunakan untuk menghadapi situasi yang telah dicontohkan pada kasus pengusaha tadi. Jadi seluruh nilai dari 5 C menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan keberadaannya. Jika hilang satu saja maka pengajuan peminjaman dana kemungkinan besar akan ditolak oleh pihak bank.

Kalaupun disetujui lantas terdapat kegagalan dalam bisnisnya yang mengakibatkan kreditnya macet maka pihak bank akan meminta jaminan yakni rumah berharga 1 milyar tadi. Lantas apakah nasabah akan menyerahkan aset bernilai tinggi karena hutang hanya sepersepuluhnya? Tentu saja tidak dan pastinya dia akan berusaha membawa kasusnya ke ranah hukum yang tentunya akan memakan biaya administrasi lainnya. Oleh karena itulah dalam mengambil keputusan pihak bank selalu memperhatikan prinsip 5 C yang tidak bisa ditawar lagi.

Manfaat Data Diri dalam BI Checking

Jika anda memiliki BI Checking dalam perbankan maka jangan salah karena hal tersebut memiliki manfaat tersendiri. Ada 10 manfaat yang diberikan oleh Bank Indonesia untuk nasabah yang terdaftar di BI Checking.

1.     Sebagai data pribadi untuk pengajuan kredit di bank.

Dengan nama yang terdaftar di BI Checking bisa membuat anda dimudahkan dalam pengurusan dan proses kredit yang anda ajukan pada bank. Jadi data anda akan disimpan sebagai dokumen pribadi yang bisa digunakan saat membutuhkan kartu kredit.

2.     Memiliki bukti fisik IDI Historis

Salah satu syarat wajib yang harus ada saat mengajukan pengkreditan pada bank adalah adanya IDI Historis sebagai dokumen riwayat yang berhubungan dengan perbankan. Dengan adanya IDI Historis pembuatan kartu  kredit akan cepat diproses.

3.     Mengetahui akar masalah kredit macet

Banyak orang pernah mendapati kredit macet di kartu kreditnya sehingga tidak bisa digunakan sebagaimana fungsinya. Namun dengan adanya IDI Historis akan membuat nasabah mengetahui akar dari masalah kredit macet tersebut sehingga bisa diselesaikan. Semua daftar bank dan juga riwayat kreditnya akan ditampilkan secara lengkap.

4.     Mengetahui masalah out standing dari IDI Historis

IDI Historis juga merekam jelas permasalahan yang berhubungan dengan perbankan. Banyak orang yang tidak mengetahui letak kesalahannya sehingga dengan menggunakan data dari IDI Historis akan tampak permasalahan yang harus segera di selesaikan.

5.     Pertimbangan Bank

BI Checking dan IDI Historis akan memudahkan bank dalam melacak data diri anda apakah layak untuk diberikan pinjaman atau tidak. Dengan menggunakan sistemini, bank akan mudah mendata dan mempercepat proses pengkreditan yang diajukan oleh nasabah selama tidak ada masalah dengan nilai scoring dalam BI Checking.

6.     Memberikan informasi pengelolaan keuangan

IDI Historis juga mampu memberikan informasi dan gambaran tentang riwayat pengelolaan keuangan yang telah anda lakukan melalui prbankan. IDI Historis juga akan merekam ketertarikan anda terhadap barang dan jasa  di masa lalu.

7.      Menjadi bukti valid riwayat kredit

Dalam sebuah sistem perbankan adakalanya mengalami dropdown yang membuat sistem tidak berfungsi dengan baik. Jika terjadi demikian maka IDI Historis akan menjadi penyelamat anda. Contohnya ketika anda merasa sudah melunasi kredit macet akan tetapi belum terdata maka anda bisa menggunakan IDI Historis sebagai bukti yang valid.

8.     Menjadi syarat bekerja di bank

Jika anda berminat untuk bekerja di lingkungan perbankan maka otomatis syarat wajib adalah memiliki IDI Historis yang digunakan sebagai bukti keuangan yang stabil. Apalagi dalam lembaga keuangan dibutuhkan seseorang yang mampu mengelola keuangan dengan baik.

9.     Menjadi bukti akan harta kekayaan

Saat berada di negara maju, IDI Historis akan berguna bagi sebuah pasangan yang akan menikah. Dengan melakukan BI Checking akan diketahui tanggungan hutang yang ada di kartu kreditnya dan bisa meminta untuk mengelola bersama dengan pasangannya.

10.  Meminimalkan kecurangan keuangan

Dengan menggunakan BI Checking maka setiap nasabah memiliki rekam uang yang dimilikinya. Dengan demikian potensi utuk berbuat curang seperti tindak korupsi dan penggelapan bisa dihindari.

Dokumen yang Dibutuhkan Oleh IDI Historis Dalam BI Checking

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa untuk melengkapi data pada BI Checking dibutuhkan berkas yang lengkap sehingga proses checking bisa dikerjakan dengan tepat. IDI Historis tidak terbatas untuk perseorangan akan tetapi juga bisa mendata suatu badan usaha. Berikut ini dokumen yang diperlukan untuk data di BI Checking dan IDI Historis.

Dokumen untuk pengajuan IDI Historis Individual

  1. KTP/KITAS/KIMS
  2. Nomor Handphone
  3. E-mail

Sedangkan untuk dokumen untuk pengajuan IDI Historis badan usaha

  1. KTP/KITAS/KIMS
  2. NPWP Badan Usaha
  3. Nomor Akte Badan Usaha
  4. E-mail

Salah satu cara mendaftarkan diri untuk BI Checking tanpa harus datang ke bank Indonesia adalah dengan menggunakan alamat facebook https://www.facebook.com/CekBI Checking. like halaman fanpagenya terlebih dahulu kemudian inbok untuk info lebih jelasnya, atau langsung WA disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *