Tagihan Dari Kartu Kredit Yang Sudah Lunas dan Ditutup

Saya mengalami masalah tagihan kartu kredit yang sebenarnya telah dilunasi dan bahkan ditutup setelah istri saya menggunakan kartu kredit yang dikeluarkan pihak Bank Standard Chartered. Pada tahun 2010 lalu; kami memutuskan untuk menutup kartu kredit Bank Standard Chartered dengan melunasi seluruh tagihan dan melakukan penutupan kartu kredit melalui hubungan telepon dengan pihak Standard Chartered Bank cabang Surabaya. Setelah pelunasan kredit dan penutupan kartu kredit tersebut; istri saya tidak pernah lagi menerima surat tagihan kartu kredit dari pihak Standard Chartered Bank.

Masalah baru saya temui pada bulan Januari 2011 ketika kami ingin membeli rumah dan mengajukan Kredit Pemilikan Rumah  melalui Bank BTN. Permohonan KPR yang kami ajukan ternyata ditolak oleh pihak Bank BTN. Penolakan dilakukan dengan alasan pihak analis Bank BTN masih ada tagihan kredit macet atas nama istri saya yang berasal dari tagihan kartu kredit Standard Chartered Bank ketika melakukan pemeriksaan pada Bank Indonesia Checking. Kami mendapat informasi bahwa istri saya masih memiliki tagihan yang terhitung dari bulan April 2010 hingga saat melakukan checking dengan nilai sebesar + Rp 400.000.

Setelah memperoleh informasi tersebut; kami kemudian melakukan konfirmasi dengan pihak Standard Chartered bank cabang Surabaya tempat istri saya melakukan penutupan kartu kredit. Pihak Standard Chartered bank cabang Surabaya membenarkan bahwa istri saya telah melakukan pelunasan kredit dan menutup kartu kredit pada bulan Maret 2010. Kemudian pihak cabang Surabaya meminta istri saya untuk menghubungi Standard Chartered Bank pusat di Jakarta. Pihak layanan konsumen Standard Chartered Bank di Jakarta mengatakan bahwa tagihan tersebut merupakan tagihan dari iuran tahunan yang terbit pada bulan April 2010 ditambah dengan bunga berjalan hingga bulan Desember 2010. Tagihan tersebut berasal dari fasilitas KTA pada kartu kredit yang sebenarnya telah ditutup oleh istri saya pada bulan Maret 2010. Berdasar informasi yang kami ketahui; setelah melakukan penutupan sebuah kartu kredit maka setiap fasilitas yang sebelumnya melekat pada kepemilikan kartu kredit tersebut juga telah ditutup atau tidak ada lagi kewajiban bagi kami yang tidak lagi memiliki kartu kredit Standard Chartererd Bank untuk membayar iuran tahunan dari fasilitas KTA kartu kredit.

Berdasarkan situasi yang kami hadapi; istri saya kemudian melakukan komunikasi dengan pihak layanan konsumen Standard Chartered Bank sebanyak lebih dari 5 kali untuk memperoleh surat keterangan yang menjelaskan bahwa tagihan yang muncul pada BI Checking tersebut bukan merupakan kesalahan kami selaku mantan nasabah kartu kredit Standard Chartered Bank yang telah melakukan penutupan kartu kredit. Jika surat keterangan tersebut diterbitkan; maka kami dapat melanjutkan proses mengajukan KPR pdi Bank BTN yang sebelumnya telah ditolak karena kami dianggap masih memiliki kredit macet di Standard Chartered Bank.

Akibat surat keterangan yang menyebutkan kredit macet di Standard Chartered Bank tersebut bukan kesalahan kami tersebut tidak segera kami dapatkan; maka kami mengalami dampak yang merugikan berupa :

1.     Kami gagal membeli rumah karena pihak pemilik rumah tidak mau menunggu kami memperoleh klarifikasi mengenai kredit macet yang bukan merupakan kesalahan kami. Rumah yang akan kami beli telah dijual kepada pihak lain.

2.     Kami hingga saat ini masih belum dapat mengajukan KPR melalui bank manapun. Hal tersebut disebabkan karena nama istri saya masih tercatat muncul dalam BI Checking dengan golongan nasabah yang memiliki kredit macet ( Kolektibilitas 5 ).

Bagus Permadi

Perun Baloi View D1 / 15

Batam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *